Jamie Hewlett


James Christoper Hewlett adalah seorang designer dan comic-book artist dari Inggris. gayanya yang unik "Quirky" menjadi ciri khas dari tiap karya karya Hewlett.

Hewlett menciptakan komik "Tank Girl" untuk Majalah Deadline, majalah berisi komik dari berbagai komikus dan juga berisi tentang musik dan kultur setempat. Tank Girl menceritakan remaja perempuan punk yang mengendarai tank dan mempunyai seorang pacar berwujud kangguru mutant. karyanya perdananya menjadi berhasil dan namanya dikenal.

pada tahun 2000 Jamie Hewlett yang bertemu anggota band Blur, Damon Albarn sepakat membuat sebuah band virtual pertama, Gorillaz. Albarn berkerja pada divisi musik sedangkan Hewlett ditugaskan mencari design untuk anggota band Gorillaz. band virtualnya dengan Damon Albarn sukses besar dan mendapat banyak penghargaan.

sekarang pun Hewlett masih menjadi designer sekaligus komikus. rencananya pada tahun 2010 Gorillaz akan menelurkan satu album lagi setelah Demon Days pada 2005.

Mixtape: Semesta LSD Vol.1


Semesta LSD
1. Reachout i'll Be There-Jackson 5
2. Wouldn't It Be Nice-The Beach Boys
3. Presence Of The Lord-Blind Faith
4. Close To The Edge-Yes
5. Interlude With Ludes-Them Crooked Vultures
6. Astral Altar-Serigala Jahanam
7. What A Wonderful World-Axwell & Bob Sinclair Feat. Ron Caroll
8. My Faya-Fede Le Grand
9. Machine Gun-Jimi Hendrix
10. All Glitters Are Not Gold-Mentholium Minusone
11. Dark Star-Grateful Dead


Download HERE
Mixed by: Mr.Lizard
2010

Swoon


Swoon adalah seorang street artist asal New York dengan spesialisasi Wheatpaste. karya kara Wheatpastenya berukuran satu banding satu dengan manusia biasa serta bentuk wheatpaste yang tidak biasa dan mendetail. Swoon dengan nama asli Caledonia “Callie” Curry belajar mengenai seni di Pratt Institute, Broklynn. ia mulai berkarir sebagai Street artist sejak 1999. Swoon juga merupakan salah satu anggota Justseeds.

Name2

Name2 street artist asal jakarta yang juga merupakan salah satu anggota dari dua crew legendaris Jakarta sekaligus, yaitu UBC (Underground Business Club) dan MASE (Mad Artists Striking Existence).
ia berpendapat bahwa setiap karya street art mempunyai nilai tersendiri di jalanan. karya karya yang menurut dia mempunyai nilai tak akan ditibannya.

dalam perkembangan mengolah huruf, stylenya berkembang sejalan dengan pengetahuan, skill, dan taste. untuk urusan karakter, ia memilih karakter yang tubuhnya tidak proposional atau bisa juga realistis, namun tidak jarang keduanya digabung. here

Special: Jurnalisme Musik Indonesia Butuh Tamparan


Full Story After The Jump


Reporter itu tak sadar bahwa ia meneguk air dari gelas saya. Saya biarkan, sebab tak ingin mempermalukannya. Ia mengeluarkan selembar kertas dan memulai sesi wawancara dengan pertanyaan pertama. “Oke, kenapa pilih nama Tika?” tanyanya. “Apakah ini pertanyaan trik?” pikir saya.



Sebab Tika adalah nama pemberian orang tua. Tentu saja nama bisa dialterasi untuk kesan lebih catchy, misalnya dengan pengejaan aneh seperti ‘Teeka’ atau ‘Tiqa’. Banyak yang sudah melakukannya. Tapi bukan itu tampaknya arah pertanyaan sang reporter dari majalah remaja kenamaan tersebut.



Akhirnya saya balik bertanya,“Maksudnya apa, mbak?” Ia menepuk dahinya dan meminta maaf. “Aduh! Maaf, Mbak Tika. Di daftar pertanyaan saya, itu sudah template pertanyaan untuk band,” akunya (terlalu) jujur. Ia memperlihatkan lembaran pertanyaan isu standar dari majalah tersebut yang tampak sudah kusut karena sering dipakai.



’Mengapa pilih nama band __’. ’Ingin- berkolaborasi dengan siapa saja?’. ’Apa harapannya untuk album ini?’. Pertanyaan yang terakhir biasa dijawab para musisi dengan jawaban klise, “Semoga bisa diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia.”



Ironis memikirkan betapa banyak musisi yang mampir ke kantor itu dengan maksud memperkenalkan karya, karakter, dan citra mereka kepada masyarakat luas. Tapi dengan daftar pertanyaan yang distandarisasi, musisi paling unik sekalipun akan terdengar standar, tentunya. Begitu pula dengan hasil penulisan artikelnya. Standar-standar saja. Tidak cukup rupanya, industri musik Indonesia bermain aman dengan pilihan repertoirenya dan musisi bermain aman dalam membuat karya. Media pun ikut bermain aman dalam menyampaikan informasi kepada publik. Main aman biasanya bergandeng erat dengan malas. Entah mana yang lebih dominan dalam hal ini.



Negara ini punya begitu banyak talenta musik, dan begitu sedikit media informasi musik. Bakat-bakat hebat di luar sana kekurangan akses dan referensi. Penyeragam-an yang ada dalam industri musik tak bisa disalahkan seratus persen kepada industrinya. Media pun semestinya memberi sudut pandang yang membuka pikiran. Sayangnya, sudah rahasia umum bagaimana kebanyakan media–cetak khususnya–lebih suka mengcopy paste siaran pers keluaran label atau manajemen artis dibanding meriset dan menambahkan twist yang membumbui artikelnya.


Bisa dimengerti, dengan tekanan deadline dan menumpuknya pekerjaan, metode ini praktis dan hemat waktu. Manajemen artis pun bahagia, sebab poin jualan mereka sudah dengan sengaja dipaketkan dalam siaran pers tersebut. Semua diuntungkan. Semua kecuali masyarakat yang mengkonsumsi informasinya. Pada akhirnya tak banyak yang bisa mereka pelajari dan jadikan inspirasi apabila semua majalah yang mereka beli menuliskan hal yang sama, dari sudut pandang yang sama, dengan susunan kalimat yang sama tentang band favorit mereka. Membaca majalah jadi tak menarik lagi. You’ve read one, you’ve read them all.


Rosihan Anwar dalam bukunya Sejarah Kecil Indonesia (Jilid 2) menuliskan bahwa di tahun 1977, “mayoritas wartawan memilih profesinya atas dasar dorongan cita-cita dan faktor idealisme”. Menjadi insan pers di masa itu adalah hal yang membanggakan. Namun dunia telah berubah jauh sejak tahun 1977. Kebanyakan wartawan hari ini tidak memilih profesinya, melainkan terdampar di profesi tersebut. Menjalankan tugas tanpa passion, wajar tentu apabila hasil karyanya pun tak bernyawa.



Untunglah ada banyak fenomena kecil di generasi ini yang sedikit banyak menyelamatkan jurnalisme musik dari ketumpulan mutlak. Masuknya budaya zine ke Indonesia, contohnya. Tak bisa dipungkiri bahwa wawancara-wawancara paling menarik yang pernah saya lakukan adalah justru dengan zine-zine lokal. Dengan berapi-api, mereka berlomba menyajikan pertanyaan yang belum pernah ditanyakan media lain. Meski secara sirkulasi tergolong kecil, namun patut diberi kredit yang setara.



Namun ada lagi fenomena kecil, yang entah disadari atau tidak, memberi transfusi darah segar dalam jurnalisme musik Indonesia saat beberapa tahun belakangan ini ketika semakin banyak anak-anak band yang nyambi bekerja jadi wartawan (atau sebaliknya). Membawa passion mereka akan musik ke tempat kerja. Membagi segala informasi yang mereka rasa patut diketahui masyarakat tentang yang baru, apa yang menarik, dari musik-musik yang mereka sukai.



Ketika majalah remaja putri membahas tentang musik hip hop, dan si penulis membahas Kanye West, band bubblegum hip hop Korea, hingga Homicide, bagi saya ini sangat berarti. Ketika tabloid perempuan mengulas album Tori Amos, dan majalah khusus lelaki membuat featuretentang roadies dan kru panggung, bagi saya ini mendobrak batas.



Seperti semua hal di negeri ini, dunia musik Indonesia, termasuk di dalamnya jurnalisme musik, adalah paradoks yang kontradiktif. Lesu dan stagnan di satu sisi, tapi semarak dengan agen-agen kecil yang mencoba menyelipkan perubahan kecil yang berarti di sisi lain. Itulah yang membuat musik Indonesia begitu seksi. Kepada semua insan pers di luar sana yang bekerja dengan passiondan mencintai profesi kalian, peluk hangat dari saya untuk kalian semua. Keep loving, keep fighting.



Oleh : Kartika Jahja, vokalis Tika & The Dissidents


from: Rolling Stone Indonesia

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

  © Blogger templates Palm by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP